Wednesday, May 08, 2013

Resensi Buku “Sunset Bersama Rosie”


Judul               : Sunset Bersama Rosie
Penulis            : Tere-Liye
Penerbit         : Mahaka Publishing, Imprint Penerbit Republika
Tebal              :  xiv + 426 halaman

Hanya waktu yang selalu berbaik hati mengobati kesedihan (Tegar)

Perasaan sakit dan kecewa akan pengalaman membuat seseorang diharapkan mampu untuk bisa berdamai dengan pengalaman itu, yah berdamai yang tidak berarti melupakan. Inilah salah satu pelajaran berharga yang dihadirkan Tere Liye dalam novelnya ini.

Tokoh utama yang dihadirkan bernama Tegar Karang, yang memendam perasaan terhadap sahabatnya sedari kecil bernama Rosie. Perasaan itu menemui titik kecewa saat Nathan, teman kampus Tegar, menyatakan perasaannya pada Rosie di Gunung Rinjani. Kekecewaan itu mendera Tegar  yang menganggap bahwa penantiannya menyatakan cinta pada Rosie selama 20 tahun terhalang oleh Nathan yang barus dikenal Rosie selama 2 bulan. Tegar pun memutuskan menjauh dari kehidupan mereka berdua. 5 tahun lamanya. Hingga keluarga Rosie dan Nathan memiliki 4 anak, para kuntum bunga mereka. Ada Anggrek, Jasmine, Sakura dan Lili.
 Keempat anak ini benar-benar menjadi kuntum bunga yang mengindahkan hubungan Rosie-Nathan dan Tegar. Saat Tegar menghilang beberapa tahun setelah pernikahan mereka, Rosie dan Nathan berusaha mencarinya dan mendapati alamatnya di Jakarta. Rosie dan Nathan membawa anaknya menemui Tegar, dan disinilah awal mencairnya hubungan mereka kembali. Seperti beberapa tahun silam, saat mereka masih mahasiswa. Tegar pun telah memiliki Sekar sebagai calon istrinya. Tegar saat itu telah berdamai dengan keadaan, berdamai dengan perasaannya, meski tidak melupakan.
Kebahagiaan itu sontak luluh berantakan tatkala Bom Jimbaran Bali terjadi. Tepat satu hari sebelum pertunangan Tegar dan Sekar. Tegar yang mengetahui keadaan di Jimbaran, segera menuju Bali. Didapatinya Nathan tidak bernafas lagi. Sikap melindungi Tegar kepada Rosie dan anak-anaknya semakin membuncah, apalagi anak-anak ini sudah menjadi bagian pelengkap hidup Tegar. Saat itulah Tegar memutuskan meninggalkan Jakarta dan karir yang terus menanjak untuk menjadi “pengganti” Nathan dalam melindungi anak-anak, membantu Rosie menghilangkan depresi akutnya, mengurusi resort yang semakin berkembang di Gili Terawangan dan Bali, serta tentu saja menunda pertunangannya dengan Sekar.

Setelah dua tahun, kehidupan Rosie dan anak-anaknya hampir pulih seutuhnya. Tegar pun memutuskan untuk kembali pada Sekar, menunaikan janji kehidupan pada gadis yang mencintainya itu. Bagaimana dengan Rosie? Apakah benar tidak ada mawar yang akan tumbuh di tegarnya karang? Bagaimana Jasmine memberikan bunga mawar biru kepada terdakwa pada persidangan bom Jimbaran? Ini adalah satu bagian inti dari novel ini, tentang keikhlasan untuk menerima. Bagaimana pula si Bungsu Lili dengan Kuasa-Nya mampu merubah suatu keadaan yang membuat Tegar mengerti arti kesempatan? Bagaimana keempat kuntum Rosie dan Nathan menjadi penyaksi yang sempurna dan mampu menciptakan kebahagiaan mereka, Rosie, Nathan bahkan Sekar? Baca selengkapnya di novel yang ditulis berlatarkan Bali, Mataram dan Jakarta ini.

Novel ini menjadi satu bacaan yang menarik untuk dibaca karena ada pelajaran hidup di dalamnya, khususnya dalam memaknai kesempatan. Dan tentu saja, agar kita bisa mengerti bagaimana berdamai dengan keadaan. Meski mengharukan, tetapi sangat inspiratif.Judul               : Sunset Bersama Rosie
Penulis            : Tere-Liye
Penerbit         : Mahaka Publishing, Imprint Penerbit Republika
Tebal              :  xiv + 426 halaman

Hanya waktu yang selalu berbaik hati mengobati kesedihan (Tegar)

Perasaan sakit dan kecewa akan pengalaman membuat seseorang diharapkan mampu untuk bisa berdamai dengan pengalaman itu, yah berdamai yang tidak berarti melupakan. Inilah salah satu pelajaran berharga yang dihadirkan Tere Liye dalam novelnya ini.

Tokoh utama yang dihadirkan bernama Tegar Karang, yang memendam perasaan terhadap sahabatnya sedari kecil bernama Rosie. Perasaan itu menemui titik kecewa saat Nathan, teman kampus Tegar, menyatakan perasaannya pada Rosie di Gunung Rinjani. Kekecewaan itu mendera Tegar  yang menganggap bahwa penantiannya menyatakan cinta pada Rosie selama 20 tahun terhalang oleh Nathan yang barus dikenal Rosie selama 2 bulan. Tegar pun memutuskan menjauh dari kehidupan mereka berdua. 5 tahun lamanya. Hingga keluarga Rosie dan Nathan memiliki 4 anak, para kuntum bunga mereka. Ada Anggrek, Jasmine, Sakura dan Lili.

Keempat anak ini benar-benar menjadi kuntum bunga yang mengindahkan hubungan Rosie-Nathan dan Tegar. Saat Tegar menghilang beberapa tahun setelah pernikahan mereka, Rosie dan Nathan berusaha mencarinya dan mendapati alamatnya di Jakarta. Rosie dan Nathan membawa anaknya menemui Tegar, dan disinilah awal mencairnya hubungan mereka kembali. Seperti beberapa tahun silam, saat mereka masih mahasiswa. Tegar pun telah memiliki Sekar sebagai calon istrinya. Tegar saat itu telah berdamai dengan keadaan, berdamai dengan perasaannya, meski tidak melupakan.
Kebahagiaan itu sontak luluh berantakan tatkala Bom Jimbaran Bali terjadi. Tepat satu hari sebelum pertunangan Tegar dan Sekar. Tegar yang mengetahui keadaan di Jimbaran, segera menuju Bali. Didapatinya Nathan tidak bernafas lagi. Sikap melindungi Tegar kepada Rosie dan anak-anaknya semakin membuncah, apalagi anak-anak ini sudah menjadi bagian pelengkap hidup Tegar. Saat itulah Tegar memutuskan meninggalkan Jakarta dan karir yang terus menanjak untuk menjadi “pengganti” Nathan dalam melindungi anak-anak, membantu Rosie menghilangkan depresi akutnya, mengurusi resort yang semakin berkembang di Gili Terawangan dan Bali, serta tentu saja menunda pertunangannya dengan Sekar.

Setelah dua tahun, kehidupan Rosie dan anak-anaknya hampir pulih seutuhnya. Tegar pun memutuskan untuk kembali pada Sekar, menunaikan janji kehidupan pada gadis yang mencintainya itu. Bagaimana dengan Rosie? Apakah benar tidak ada mawar yang akan tumbuh di tegarnya karang? Bagaimana Jasmine memberikan bunga mawar biru kepada terdakwa pada persidangan bom Jimbaran? Ini adalah satu bagian inti dari novel ini, tentang keikhlasan untuk menerima. Bagaimana pula si Bungsu Lili dengan Kuasa-Nya mampu merubah suatu keadaan yang membuat Tegar mengerti arti kesempatan? Bagaimana keempat kuntum Rosie dan Nathan menjadi penyaksi yang sempurna dan mampu menciptakan kebahagiaan mereka, Rosie, Nathan bahkan Sekar? Baca selengkapnya di novel yang ditulis berlatarkan Bali, Mataram dan Jakarta ini.

Novel ini menjadi satu bacaan yang menarik untuk dibaca karena ada pelajaran hidup di dalamnya, khususnya dalam memaknai kesempatan. Dan tentu saja, agar kita bisa mengerti bagaimana berdamai dengan keadaan. Meski mengharukan, tetapi sangat inspiratif.

No comments:

Post a Comment